Puisi Oleh : Asril Masbah
Dan berlayarlah Sang Nakhoda itu, dari dermaga tua dan lusuh yang tak ber-Sri, menuju pulau sejuta janji.
Perahunya kayu, bocor, layarnyapun koyak moyak, kemudinya patah- patah sembilan
Mesinnya nafsu pada kayuh yang tak serentak
Mingitari selat, melintasi palung- palung dangkal dan karang – karang kering, menyinggahi pantai- pantai, dan tokong- tokong batu.
Sang Nakhoda itupun terus berlayar, arah tujunyapun kehilangan kompas. Dia asyik menempel dinding- dinding bocor perahu dengan kertas -kertas bunga religi.
Dia tak berani mengarahkan haluan ke tengah lautan luas, karena takut angin kencang dan ribut badai musim Utara dan Selatan putih yang mengamuk. Takut tenggelam dan tak sanggup berenang menggapai tepian.
Terus saja Sang Nakhoda itu berlayar, menangkul sampah- sampah hanyut, dan taik- taik minyak yang jadi limbah.
Dia sinis menatap angin, mendendam pada badai, menunggu sampai waktunya karam….
Tarempa , 03 November 2021