Opini   -

Prestasi dan Prestise

Dibaca: 316 x

Johari, SH
Editor • Redaksi   

Oleh : Johari, SH

Pada tiap akhir masa jabatan atau lebih keren disebut “akhir masa pengabdian” (jika memang terbukti betul-betul mengabdi), baik sebagai eksekutif, legislatif, organisasi dll, maka akan kelihatan tentang siapa telah berbuat apa dan tentunya akan dapat penilaian apa oleh jelata/anggota. Prestasi itu sesuai fakta dan dinilai oleh jelata, bukan retorika pengakuan sepihak penguasa.

Periodisasi masa jabatan itu fase pembuktian segala janji dan waktu yang cukup untuk menunjukkan “cakap serupa bikin”, kata teman negeri jiran. Apalagi jika jabatan itu 2 periode. Tentu akan menimbulkan keganjilan jika fakta-fakta kinerja lapangan tidak sesuai harapan, terutama terhadap hal fundamental, infrastruktur dasar dan hal lain yang menguasai hajat hidup orang banyak. Kenapa bisa dipilih dan terpilih pula pemimpin yang minim prestasi dan hanya mengandalkan prestise? Mungkin saja karena rakyat dibuai dan terjebak dengan pola politik pragmatis transaksional.

Lalu bagaimana terhadap siapa yang tidak berbuat apa-apa, hanya kerjanya cuma sibuk membangun citra seolah-olah tanpa dia, apapun tidak menjadi apa apa itu? Memang ada pemimpin yang begini/begitu? Bukan hanya ada, bahkan bisa terpilih untuk periode berikutnya. Lo kok bisa begitu? Yang benar-benar saja? Bukankah kita hidup pada alam demokrasi, semua terbuka?
Ya, karena keterpilihan seseorang itu bukan karena alasan prestasi (kepuasan publik terhadap kinerja) belaka, akan tetapi karena prestise (hanya mengejar status walaupun kinerja tidak mangkus). Yang terakhir kerap terjadi dengan pola oligarki kekuasaan dalam kemasan demokrasi formalitas, bukan kualitas. Ini salah satu potret buram wajah demokrasi kita.

Tradisi moralitas politik negeri penjajah kita doeloe, yakni Jepang, jangan melakukan kegagalan dan/atau kesalahan besar, bahkan jika terjadi kesalahan kecil saja, sang pemimpin itu malu dan mundur. Bahkan untuk kesalahan kecil yang dilakukan oleh stafnya. Kabarnya walikota di Jepang mundur gara gara ada warganya kecelakaan kecebur longkang dan ketika ada warganya meninggal tidak tertangani hospital pada wabah COVID-19 lalu. Sungguh luar biasa. Bagaimana dengan kita? Bukan kah kita pernah dijajah jepang, kenapa tidak dapat meniru budaya malu Jepang itu? Haik…

BACA JUGA  Ramadhan, Momentum Penguatan Moral Wartawan ( bagian 3)

Siapa yang menanam tentu akan menuai. Jika menanam benih kebaikan, tentu akan menuai kebaikan pula. Tidak bisa menanam keburukan, tapi berharap berbuah kebaikan. Mimpi kali ye. Apalagi selama yang bersangkutan menjabat tidak dapat menunaikan segala janji yang membuat terpilih dulu dan meninggalkan residu kebohongan alias janji tinggal janji. Rakyat hanya jadi korban php/prank politik dan terus merana hidup tidak kunjung sejahtera di negeri yang kaya akan SDA. “Tangan mencencang, bahu memikul”.

Ujungnya kita dapat menilai, jika moral pemimpin itu berbuat berbasiskan prestasi dan pengabdian tulus, maka kepuasan dan kesejahteraan rakyat akan terwujud. Kelompok ini jarang jarang ada dan minoritas.
Akan tetapi jika pola kerja sang pemimpin hanya mengejar status dan prestise, dengan pola pengabdian fulus ikhlas (ada fulus baru ikhlas) dan elitis, maka harapan orang banyak akan jauh panggang dari api. Kelompok ini kadang kadang tidak jarang banyak alias mayoritas mendapatkan pentas, walaupun kinerja belum pantas dan bernas.

“Hati hati bermain api, nanti bisa terbakar diri”. Terbakar api asmara jiwa merana. Terbakar api perkara, badan akan terpenjara.
Kita merindukan pemimpin yang total pengabdian dan bersemangat membara untuk kesejahteraan dan melindungi rakyatnya dengan segenap jiwa raganya, melebihi kroni dan keluarganya.
Semoga masih ada.

Selamat berakhir pekan.

Batam : 19 Mei 2024



Terhubung dengan kami

     


Pasang Iklan Banner klik DISINI