Kondisi para pedagang kerupuk Atom saat berpanas -panasan di Pelabuhan Letung

Editor : Slamet

JEMAJA, AnambasPos.com – Idariah warga Kecamatan Jemaja Kabupaten Kepulauan Anambas adalah seorang dari salah satu penjual kerupuk atom di Pelabuhan Pelni tepatnya di Pulau Berhala Kelurahan Letung Kecamatan Jemaja Kabupaten Kepulauan Anambas Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) yang sudah bertahun tahun berjualan di ujung T Pelabuhan.

Sejak berdirinya pelabuhan Pelni di Jemaja, Idariah sudah berjualan kerupuk Atom di pelabuhan itu, namun bukan penjualannya yang di bahas melainkan demi meraup keuntungan dari hasil penjualannya Idariah harus rela berjemur bahkan harus hujan – hujanan, pasalnya lokasi tempat dia berjualan tidak ada pelindung atau atap untuk berteduh, dirinya mengetahui bahwa berjualan di ujung pelabuhan atau di bagian T pelabuhan tidak dibenarkan, namun hal tersebut tidak di pedulikan oleh para pedagang termasuk Idariah.

“Saya berjualan seperti ini sudah sekitar 7 sampai 8 tahunan, kalau di pelabuhan ini sejak berdirinya pelabuhan ini. Kita sudah terbiasa berjualan berpanas – panasan bahkan kalau musim hujan turun kita juga harus rela basah basah demi mengais rezeki dari para penumpang yang singgah di pelabuhan Letung”. ucapnya.

Dari dulu pihaknya sudah mengusulkan adanya halte atau tempat yang layak untuk para pedagang berjualan yang dekat dengan pelabuhan, sehingga para pedagang tidak menggangu aktifitas pelabuhan, namun sampai saat ini belum ada realisasinya dari pihak terkait, kalau halte yang telah ada di pelabuhan lokasinya sangat jauh dari pelabuhan sehingga para penumpang enggan untuk berkunjung ke lokasi jualan, mengingat waktu yang sangat singkat bagi para penumpang yang akan melanjutkan perjalannya ke tujuan akhir.

“Halte disini tidak ada, kemudian halte atau lokasi berjualan yang sudah ada sangat jauh lokasinya sehingga para penumpang enggan untuk berkunjung ke lokasi berjualan, hal inilah yang membuat kami para pedagang berinisiatif untuk berjualan di ujung T pelabuhan”. terangnya lagi kepada Awak Media.

BACA JUGA  SOSOK kite

Sekali berjualan Idariah mengaku mendapatkan penghasilan sebesar 200 ribu hingga 300 ribu, dan itu tidak terus menerus di dapatkan, tergantung jumlah penumpang yang singgah ke pelabuhan, terkadang pernah juga dagangannya tidak laku hanya dapat seratus ribu rupiah saja dan harus pinter memutarkan dengan cara memasarkan secara berkeliling.

“Alhamdulillah sekitar 200-300 ribu keuntungan yang kita dapat sekali kapal masuk, namun hal ini tidak mesti berjalan lancar seperti yang di sampaikan, terkadang pernah juga dagangan kita tidak laku, hanya capek saja kita ke pelabuhan”. terangnya sembari tersenyum.

Sekitar 58 Orang Pedagang yang terdata berjualan di Pelabuhan Letung, namun ke 58 Orang Pedagang tersebut saat ini diketahui tidak semuanya yang Aktif berjualan, kalau yang aktif berjualan sekitar 40 orang lebih saja.

Untuk menjaga kebersihan Pelabuhan Letung tetap bersih dari dampak yang di akibatkan oleh para pedagang, para pedagang menyisihkan sebagian uangnya sebesar Rp 5000 rupiah untuk jasa kebersihan yang di kutip oleh salah satu pedagang dan kemudian diserahkan kepada pihak yang berwenang di pelabuhan, dan hal itu tidak diwajibkan seikhlasnya saja, para pedagang mengaku tidak keberatan atas pungutan uang kebersihan tersebut.

Para pedagang mengaku untuk pungutan uang kebersihan tersebut berlaku pada saat Kapal Cepat jenis Ferry dan Kapal Pelni seperti Kapal KM. Bukit Raya, kalau untuk pungutan terhadap Kapal Perintis sejenis Kapal Sabuk Nusantara para pedagang tidak di pungut biaya.

“Uang kebersihan ini berlaku ketika kapal Ferry dan Kapal Bukit Raya saja, kalau untuk Kapal Sabuk Nusantara tidak”. tutupnya saat di jumpai di lokasi pelabuhan sambil membereskan dagangan nya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here