Pertolongan Pertama An...

Pertolongan Pertama Anak Muntah dan Diare agar Tidak Dehidrasi

Ukuran Teks:

Muntah dan diare pada anak sering disebabkan oleh infeksi saluran pencernaan. Namun, penyebabnya tidak selalu sama. Hal terpenting yang perlu diwaspadai orang tua adalah dehidrasi, yaitu kekurangan cairan dan elektrolit akibat kehilangan melalui muntah dan tinja cair.

Pertolongan pertama anak muntah dan diare agar tidak dehidrasi berfokus pada penggantian cairan sedikit demi sedikit, melanjutkan asupan nutrisi, dan memantau kondisinya. Bayi dan anak kecil dapat memburuk lebih cepat, sehingga jangan menunggu anak terlihat sangat lemas sebelum bertindak.

1. Periksa Kondisi Anak dan Kenali Dehidrasi

Perhatikan apakah anak masih sadar penuh, bisa berinteraksi, mau minum, dan tetap buang air kecil. Anak yang masih aktif dan mampu mempertahankan cairan biasanya dapat mulai ditangani di rumah sambil dipantau ketat.

Waspadai tanda-tanda kekurangan cairan berikut:

  • Mulut dan lidah terasa kering.
  • Anak lebih haus, rewel, atau tampak kurang aktif.
  • Air mata berkurang saat menangis.
  • Buang air kecil lebih jarang, urine lebih pekat, atau popok lebih sedikit basah.
  • Mata tampak lebih cekung daripada biasanya.

Jangan menilai dehidrasi dari satu tanda saja. Bila beberapa tanda muncul bersamaan, terutama disertai sulit minum atau kondisi yang memburuk, segera minta pemeriksaan tenaga kesehatan.

2. Utamakan Oralit untuk Mengganti Cairan

Oralit mengandung glukosa dan elektrolit dengan komposisi yang membantu penyerapan cairan di usus. Larutan ini lebih tepat daripada air putih saja untuk mengganti kehilangan akibat diare. Oralit tidak langsung menghentikan diare, tetapi membantu mencegah dan menangani kekurangan cairan.

Cara menyiapkan oralit dengan benar

  1. Cuci tangan dan gunakan wadah serta alat minum yang bersih.
  2. Larutkan satu sachet dalam air matang yang sudah dingin sesuai volume pada kemasan. Ada sachet untuk 200 ml, ada pula untuk volume lain.
  3. Jangan mengurangi air agar larutan lebih pekat, menambah gula atau garam, maupun mencampurnya dengan susu atau jus.
  4. Simpan larutan dalam wadah tertutup dan ikuti petunjuk penyimpanan produk. Buang sisa larutan setelah 24 jam atau lebih cepat bila petunjuk kemasan mengharuskannya.

Jika oralit belum tersedia, teruskan ASI dan segera upayakan mendapatkannya. Jangan mengganti oralit dengan minuman bersoda, jus pekat, minuman olahraga, atau teh manis karena komposisinya tidak sesuai dan kadar gula tinggi dapat memperburuk diare.

3. Berikan Sedikit tetapi Sering Saat Anak Muntah

Minum banyak sekaligus dapat memicu muntah kembali. Selama anak sadar penuh dan bisa menelan, gunakan sendok atau spuit oral tanpa jarum untuk memberikan cairan perlahan.

  1. Mulai dengan sekitar 5 ml atau satu sendok teh setiap 1–2 menit.
  2. Jika cairan dapat bertahan, tambah jumlahnya secara bertahap sesuai toleransi anak.
  3. Jika anak muntah, tunggu sekitar 5–10 menit, lalu mulai kembali dengan jumlah lebih kecil dan lebih perlahan.
  4. Jangan menyemprotkan cairan dengan cepat ke belakang tenggorokan atau memaksa anak minum sambil berbaring.

Muntah sekali setelah minum tidak berarti seluruh cairan terbuang. Namun, bila anak terus memuntahkan setiap upaya pemberian cairan, segera cari pertolongan medis.

Berapa banyak oralit setelah diare?

Untuk mengganti kehilangan cairan pada anak tanpa tanda dehidrasi, panduan umumnya adalah:

  • Usia di bawah 2 tahun: sekitar 50–100 ml setelah setiap buang air besar cair.
  • Usia 2–10 tahun: sekitar 100–200 ml setelah setiap buang air besar cair.
  • Anak lebih besar: berikan sesuai rasa haus dan toleransinya.

Jumlah tersebut diberikan bertahap, bukan sekaligus, dan merupakan tambahan di luar asupan biasa. Jika sudah ada tanda dehidrasi, kebutuhan cairan harus dinilai berdasarkan berat badan dan kondisi anak oleh tenaga kesehatan.

4. Tetap Berikan ASI dan Makanan

ASI tidak perlu dihentikan. Susui lebih sering dengan durasi sesuai kemampuan bayi. Bayi di bawah enam bulan yang mengalami muntah dan diare sebaiknya segera dikonsultasikan karena lebih mudah mengalami dehidrasi. Jangan mengganti ASI dengan air putih.

Bila anak menggunakan susu formula, umumnya susu dapat diteruskan dengan pengenceran seperti biasa. Jangan mengencerkan formula berlebihan atau mengganti jenis susu tanpa arahan tenaga kesehatan.

Untuk anak yang sudah makan, tawarkan porsi kecil tetapi sering, seperti nasi, bubur, kentang, telur, ikan, atau makanan sehari-hari yang mudah diterima. Tidak perlu memuasakan anak atau membatasi makan hanya pada pisang dan bubur. Hindari makanan yang jelas memicu mual serta minuman tinggi gula.

5. Jangan Sembarangan Memberikan Obat

Obat penghenti diare seperti loperamide tidak boleh diberikan sembarangan kepada anak. Antibiotik juga tidak rutin diperlukan karena banyak kasus disebabkan oleh virus. Obat antimuntah sebaiknya diberikan hanya setelah penilaian tenaga kesehatan.

Suplemen zinc dapat dianjurkan untuk diare anak sesuai pedoman setempat. Tanyakan dosis dan lama pemberiannya kepada dokter atau apoteker. Zinc bukan pengganti oralit.

6. Ketahui Kapan Harus Segera ke Fasilitas Kesehatan

Segera ke IGD jika anak mengalami:

  • Sangat lemas, sulit dibangunkan, tidak merespons seperti biasa, atau kejang.
  • Tidak mampu minum atau terus memuntahkan cairan.
  • Tidak buang air kecil sekitar 6–8 jam, terutama disertai mulut kering atau lemas.
  • Tangan dan kaki dingin, kulit pucat atau belang, atau napas menjadi cepat.
  • Muntah berwarna hijau, muntah darah, atau nyeri perut hebat dan perut membesar.

Jangan berikan cairan lewat mulut jika kesadaran anak menurun karena berisiko tersedak. Tinja berdarah, demam tinggi, atau kondisi yang terus memburuk juga memerlukan pemeriksaan segera. Bayi di bawah tiga bulan dengan suhu 38°C atau lebih harus segera diperiksa.

7. Catat Perkembangan dan Jaga Kebersihan

Catat frekuensi muntah, diare, jumlah minum, suhu tubuh, dan waktu terakhir buang air kecil. Cuci tangan dengan sabun setelah mengganti popok dan sebelum menyiapkan makanan. Jika tidak membaik dalam 24–48 jam, periksakan anak; lakukan lebih cepat untuk bayi atau anak dengan penyakit penyerta.

Kunci pertolongan pertama adalah oralit sedikit tetapi sering, tetap memberi nutrisi, dan cepat mengenali tanda bahaya. Jangan menunda pemeriksaan bila anak tampak memburuk meskipun sudah diberi cairan.

Bagaimana perasaanmu membaca artikel ini?

Bagikan:
Artikel berhasil disimpan