Apa yang Terjadi Jika ...

Apa yang Terjadi Jika HIV Tidak Diobati? Ini Komplikasinya

Ukuran Teks:

HIV yang tidak diobati dapat terus merusak sistem kekebalan tubuh, meskipun seseorang terlihat sehat dan tidak merasakan keluhan. Seiring waktu, tubuh menjadi semakin sulit melawan infeksi dan penyakit tertentu. Kondisi ini dapat berkembang menjadi AIDS, yaitu tahap paling lanjut dari infeksi HIV.

Meski demikian, diagnosis HIV bukan berarti seseorang pasti akan mengalami AIDS. Pengobatan antiretroviral atau ARV yang dimulai sedini mungkin dan dijalani secara konsisten dapat menekan jumlah virus, menjaga kekebalan tubuh, serta mencegah banyak komplikasi.

Bagaimana HIV Merusak Tubuh Jika Tidak Diobati?

HIV menyerang sel CD4, salah satu bagian penting sistem kekebalan tubuh yang membantu mengoordinasikan pertahanan terhadap infeksi. Tanpa pengobatan, virus terus memperbanyak diri dan jumlah CD4 biasanya menurun secara bertahap.

Pada fase awal, sebagian orang mengalami gejala menyerupai flu, sementara sebagian lainnya tidak merasakan gejala apa pun. Setelah itu, infeksi dapat berlangsung selama bertahun-tahun tanpa keluhan yang jelas. Namun, tidak adanya gejala bukan berarti virus sudah hilang atau tubuh tidak mengalami kerusakan.

Kecepatan perkembangan penyakit berbeda pada setiap orang. Faktor seperti kondisi kesehatan, usia, serta infeksi lain dapat memengaruhinya. AIDS dapat didiagnosis ketika jumlah CD4 turun di bawah 200 sel/mm³ atau muncul penyakit tertentu yang menjadi penanda AIDS, terlepas dari jumlah CD4.

Komplikasi HIV yang Tidak Diobati

1. Infeksi Oportunistik

Infeksi oportunistik adalah infeksi yang lebih mudah terjadi atau menjadi berat ketika sistem kekebalan tubuh melemah. Sebagian disebabkan oleh kuman yang sebelumnya sudah ada dalam tubuh tetapi tidak menimbulkan penyakit.

Beberapa infeksi yang perlu diwaspadai meliputi:

  • Tuberkulosis atau TB: dapat menyerang paru-paru maupun organ lain. TB juga bisa terjadi sebelum HIV mencapai tahap AIDS.
  • Pneumonia Pneumocystis: infeksi paru akibat jamur yang dapat menyebabkan batuk, demam, dan sesak napas berat.
  • Kandidiasis: infeksi jamur yang dapat mengenai mulut atau kerongkongan. Jika mengenai kerongkongan, penderitanya bisa kesulitan atau kesakitan saat menelan.
  • Meningitis kriptokokus: infeksi jamur pada selaput otak yang dapat menyebabkan sakit kepala, demam, dan gangguan kesadaran.
  • Toksoplasmosis otak: infeksi parasit yang dapat memicu kejang, kebingungan, atau kelemahan anggota tubuh.
  • Infeksi sitomegalovirus: pada kekebalan tubuh yang sangat rendah, infeksi ini dapat merusak retina dan mengancam penglihatan.

2. Kanker Tertentu

Sistem kekebalan tubuh membantu mengendalikan virus pemicu kanker dan mengenali sel abnormal. Ketika fungsi ini terganggu, risiko beberapa jenis kanker meningkat. Contohnya adalah sarkoma Kaposi, limfoma non-Hodgkin, dan kanker serviks yang berkaitan dengan infeksi HPV.

Tidak semua orang dengan HIV akan mengalami kanker. Namun, pengobatan HIV, vaksinasi yang sesuai, dan skrining berdasarkan rekomendasi tenaga kesehatan tetap penting untuk menurunkan risiko serta menemukan penyakit lebih dini.

3. Penurunan Berat Badan dan Kekurangan Gizi

HIV stadium lanjut dapat menyebabkan penurunan berat badan yang tidak disengaja, berkurangnya massa otot, dan kelemahan berat. Penyebabnya dapat berupa infeksi berkepanjangan, nafsu makan menurun, sulit menelan, atau diare kronis yang mengganggu penyerapan nutrisi.

Kekurangan gizi kemudian dapat memperburuk daya tahan tubuh. Karena itu, penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas perlu diperiksa, bukan sekadar diatasi dengan suplemen atau penambah nafsu makan.

4. Gangguan Otak dan Sistem Saraf

HIV dapat memengaruhi fungsi otak dan saraf, baik secara langsung maupun melalui infeksi oportunistik. Keluhannya dapat berupa sulit berkonsentrasi, gangguan daya ingat, perubahan perilaku, atau gangguan keseimbangan. Pada kondisi berat, kemampuan menjalankan aktivitas sehari-hari dapat terganggu.

Kerusakan saraf tepi juga bisa menyebabkan kesemutan, rasa terbakar, atau kebas pada tangan dan kaki. Pemeriksaan diperlukan karena keluhan tersebut dapat memiliki penyebab lain yang membutuhkan penanganan berbeda.

5. Gangguan Organ dan Risiko Kematian

Infeksi HIV yang tidak terkendali dapat menyebabkan peradangan berkepanjangan dan berkontribusi terhadap gangguan ginjal maupun penyakit kardiovaskular. Penyakit hati juga dapat menjadi lebih berat, terutama jika terdapat hepatitis B atau hepatitis C bersamaan.

Pada tahap lanjut, kombinasi infeksi berat, kanker, dan kerusakan organ dapat mengancam nyawa. Risiko ini dapat diturunkan secara bermakna dengan pengobatan HIV dan penanganan komplikasi yang tepat.

Apakah HIV Tanpa Pengobatan Lebih Mudah Menular?

Tanpa ARV, jumlah virus biasanya tidak terkontrol sehingga risiko penularan tetap ada. HIV dapat ditularkan melalui hubungan seksual, penggunaan bersama alat suntik, serta dari ibu ke bayi selama kehamilan, persalinan, atau menyusui.

Sebaliknya, orang dengan HIV yang menjalani ARV dan mempertahankan jumlah virus tidak terdeteksi tidak menularkan HIV melalui hubungan seksual. Prinsip ini dikenal sebagai U=U atau tidak terdeteksi berarti tidak menularkan. Kondisi tersebut harus dipastikan melalui pemeriksaan viral load berkala, bukan berdasarkan ada atau tidaknya gejala.

Langkah untuk Mencegah Komplikasi HIV

  1. Lakukan tes HIV jika ada kemungkinan paparan. Gejala saja tidak dapat memastikan atau menyingkirkan HIV. Tenaga kesehatan dapat menentukan apakah tes ulang diperlukan sesuai masa jendela pemeriksaan.
  2. Mulai ARV sesegera mungkin setelah diagnosis. Dokter akan menilai kondisi dan menentukan waktu mulai yang tepat, terutama jika terdapat infeksi oportunistik tertentu.
  3. Minum obat sesuai anjuran dan kontrol rutin. Pemeriksaan viral load, CD4 sesuai kebutuhan, serta fungsi organ membantu menilai keberhasilan terapi.
  4. Jalani pencegahan tambahan sesuai kondisi. Ini dapat mencakup skrining TB, obat pencegahan infeksi tertentu, vaksinasi, dan skrining kanker.

Kapan Harus Segera Mencari Pertolongan?

Periksakan diri jika mengalami demam berkepanjangan, keringat malam, diare menetap, berat badan turun, atau bercak putih di mulut. Segera ke IGD jika muncul sesak berat, kejang, penurunan kesadaran, sakit kepala hebat, atau gangguan penglihatan mendadak.

Jika sudah terdiagnosis HIV tetapi belum berobat atau sempat menghentikan ARV, hubungi layanan kesehatan tanpa menunggu gejala. ARV belum menyembuhkan HIV, tetapi terapi yang berkelanjutan dapat membantu orang dengan HIV menjalani hidup panjang, sehat, dan produktif.

Bagaimana perasaanmu membaca artikel ini?

Bagikan:
Artikel berhasil disimpan