Diare biasanya ditandai dengan buang air besar yang lebih sering dan tinja yang encer. Namun, jika disertai darah, keluhan ini tidak boleh dianggap sebagai diare biasa. Penyebabnya beragam, mulai dari infeksi saluran pencernaan hingga peradangan atau gangguan aliran darah ke usus.
Diare berdarah pada orang dewasa sebaiknya diperiksakan pada hari yang sama, meskipun darah tampak sedikit. Banyaknya darah saja tidak menentukan tingkat keparahan. Nyeri perut, demam, kondisi tubuh, dan penyakit yang menyertai juga perlu diperhatikan.
Seperti Apa Diare Berdarah?
Darah dapat terlihat merah segar, merah gelap, atau bercampur dengan lendir dan tinja cair. Sebagian orang juga mengalami mulas, dorongan buang air besar terus-menerus meskipun tinja yang keluar sedikit, atau rasa tidak tuntas setelah buang air besar.
Tinja hitam pekat, lengket, menyerupai aspal dapat menandakan perdarahan dari saluran cerna bagian atas. Walaupun bukan gambaran khas diare berdarah, kondisi tersebut memerlukan penilaian segera, terutama jika disertai lemas atau pusing.
Penyebab Diare Berdarah pada Orang Dewasa
1. Infeksi saluran pencernaan
Infeksi bakteri seperti Shigella, Campylobacter, Salmonella, dan jenis tertentu Escherichia coli dapat menyebabkan diare berdarah. Penularannya dapat terjadi melalui makanan kurang matang, air tercemar, atau tangan yang terkontaminasi. Keluhan lain meliputi kram perut, mual, dan demam, meskipun demam tidak selalu muncul.
Parasit seperti Entamoeba histolytica juga dapat menyebabkan diare berdarah. Riwayat perjalanan, konsumsi makanan tertentu, dan orang serumah yang mengalami keluhan serupa dapat membantu dokter menilai kemungkinan penyebabnya.
2. Penyakit radang usus
Kolitis ulseratif dan penyakit Crohn merupakan penyakit radang usus yang dapat menimbulkan diare berkepanjangan atau berulang. Darah lebih sering ditemukan pada kolitis ulseratif, tetapi juga bisa muncul pada Crohn. Gejala penyerta dapat berupa nyeri perut, berat badan turun, mudah lelah, dan buang air besar pada malam hari.
3. Kolitis iskemik
Kolitis iskemik terjadi ketika aliran darah ke usus besar berkurang. Keluhannya dapat berupa nyeri perut mendadak yang kemudian diikuti tinja berdarah. Kondisi ini lebih sering terjadi pada usia lanjut atau orang dengan penyakit pembuluh darah, tetapi dapat pula dialami kelompok lain. Nyeri mendadak yang berat harus segera dinilai di IGD.
4. Kelainan lain pada usus atau anus
Polip dan kanker kolorektal dapat menyebabkan perdarahan serta perubahan pola buang air besar, terutama jika keluhan menetap. Namun, keduanya bukan penyebab tersering diare berdarah yang muncul mendadak.
Wasir atau luka kecil pada anus dapat menimbulkan darah merah segar saat buang air besar, tetapi tidak dengan sendirinya menjelaskan penyebab diare. Jangan langsung menyimpulkan darah berasal dari wasir tanpa pemeriksaan.
Tanda Bahaya yang Membutuhkan Pertolongan Segera
Segera ke IGD jika diare berdarah disertai salah satu kondisi berikut:
- Darah keluar banyak, berulang, atau disertai gumpalan.
- Pingsan, hampir pingsan, kebingungan, keringat dingin, atau kelemahan berat.
- Nyeri perut hebat, perut terasa keras, atau nyeri yang semakin memburuk.
- Tidak mampu minum atau muntah terus-menerus sehingga cairan tidak dapat masuk.
- Tanda dehidrasi berat, seperti urine sangat sedikit, pusing berat saat berdiri, atau jantung berdebar cepat.
- Demam tinggi disertai kondisi tubuh yang memburuk.
- Tinja hitam seperti aspal, terutama bersama pusing, pucat, atau lemas.
Pada infeksi E. coli penghasil toksin Shiga, komplikasi langka tetapi serius berupa sindrom hemolitik uremik dapat terjadi. Urine berkurang, pucat, mudah memar, atau kelelahan luar biasa setelah diare merupakan tanda bahaya, bahkan ketika diare mulai membaik.
Orang lanjut usia, ibu hamil, pengguna obat pengencer darah, serta penderita gangguan ginjal atau penurunan kekebalan tubuh perlu lebih cepat mencari pertolongan karena risiko komplikasinya lebih tinggi.
Pemeriksaan yang Mungkin Diperlukan
Dokter akan menanyakan kapan diare dimulai, frekuensi buang air besar, jumlah darah, demam, makanan yang dikonsumsi, perjalanan, serta obat-obatan, termasuk antibiotik yang baru digunakan. Pemeriksaan fisik membantu menilai dehidrasi, perdarahan, dan kondisi perut.
Sesuai temuan, pemeriksaan dapat mencakup tes tinja untuk mencari penyebab infeksi, tes darah untuk menilai anemia dan fungsi ginjal, atau pencitraan. Kolonoskopi dapat dipertimbangkan jika dicurigai radang usus atau penyebab perdarahan lain; tidak semua pasien memerlukannya.
Langkah Awal yang Aman
- Ganti cairan yang hilang. Minum oralit sedikit tetapi sering. Larutkan sesuai volume air pada petunjuk kemasan menggunakan air aman. Jangan membuat larutan lebih pekat atau lebih encer.
- Tetap makan sesuai kemampuan. Pilih porsi kecil dengan makanan yang mudah ditoleransi, seperti nasi, sup, atau kentang. Hindari alkohol dan kurangi makanan yang jelas memperparah keluhan.
- Hindari obat penahan gerak usus tanpa arahan dokter. Loperamide dan obat sejenis tidak dianjurkan untuk diare berdarah karena dapat meningkatkan risiko komplikasi pada kondisi tertentu.
- Jangan memulai antibiotik sendiri. Tidak semua penyebab membutuhkan antibiotik. Pada dugaan infeksi E. coli penghasil toksin Shiga, antibiotik tertentu dapat meningkatkan risiko komplikasi.
- Catat gejalanya. Perhatikan frekuensi diare, warna darah, suhu tubuh, jumlah urine, dan obat yang diminum untuk membantu penilaian dokter.
Langkah tersebut hanya membantu sementara dan bukan pengganti pemeriksaan medis. Jika muncul tanda bahaya, jangan menunda ke IGD untuk mencoba perawatan di rumah.
Mencegah Penularan dan Kekambuhan
Cuci tangan dengan sabun setelah dari toilet dan sebelum menyiapkan makanan. Gunakan air minum yang aman, masak daging hingga matang, serta pisahkan bahan mentah dari makanan siap santap. Hindari menyiapkan makanan untuk orang lain selama masih diare.
Jika penyebabnya penyakit radang usus atau kondisi noninfeksi lainnya, pencegahan kekambuhan memerlukan pengobatan sesuai diagnosis. Intinya, diare berdarah bukan diagnosis tunggal: pemeriksaan diperlukan agar penyebabnya ditangani dengan tepat dan komplikasi dapat dicegah.