Daftar Tes PMS yang Di...

Daftar Tes PMS yang Direkomendasikan dan Kapan Sebaiknya Dilakukan

Ukuran Teks:

Memahami daftar tes PMS yang direkomendasikan dan kapan sebaiknya dilakukan membantu Anda menjaga kesehatan seksual tanpa menjalani pemeriksaan yang tidak diperlukan. Penyakit menular seksual (PMS), yang juga disebut infeksi menular seksual (IMS), dapat terjadi tanpa keluhan. Karena itu, merasa sehat atau melihat pasangan tidak bergejala belum tentu berarti bebas infeksi.

Tidak ada satu tes yang dapat mendeteksi seluruh PMS. Pilihan pemeriksaan bergantung pada jenis kontak seksual, bagian tubuh yang terpapar, waktu sejak paparan, gejala, kehamilan, dan riwayat kesehatan.

Daftar Tes PMS yang Perlu Dipertimbangkan

1. Tes HIV

Tes HIV dapat menggunakan pemeriksaan antigen/antibodi generasi keempat dari darah vena, tes antibodi, atau tes cepat. Pemeriksaan generasi keempat umumnya mendeteksi infeksi lebih dini dibandingkan tes antibodi saja. Pada dugaan infeksi sangat awal, dokter dapat mempertimbangkan pemeriksaan materi genetik virus atau NAT.

Hasil skrining yang reaktif perlu dilanjutkan dengan pemeriksaan konfirmasi sesuai algoritme layanan kesehatan; hasil tersebut tidak boleh ditafsirkan sendiri sebagai diagnosis akhir.

2. Tes Sifilis

Sifilis biasanya diperiksa melalui darah dengan kombinasi tes nontreponemal, seperti RPR atau VDRL, dan tes treponemal. Kombinasi ini membantu menilai kemungkinan infeksi serta menentukan tindak lanjut. Bila terdapat luka yang mencurigakan, pemeriksaan langsung dari lesi mungkin tersedia di fasilitas tertentu.

Sampaikan jika Anda pernah mendapat pengobatan sifilis. Sebagian hasil tes dapat tetap positif setelah infeksi berhasil diobati.

3. Tes Gonore dan Klamidia

Pemeriksaan yang diutamakan adalah NAAT, yaitu tes yang mendeteksi materi genetik bakteri. Sampelnya dapat berupa urine awal aliran, usap vagina, atau sampel dari lokasi lain sesuai paparan.

Setelah seks oral atau anal, dokter dapat menyarankan usap tenggorokan atau rektum. Tes urine saja tidak menyingkirkan infeksi di kedua lokasi tersebut. Pada dugaan kegagalan pengobatan gonore, kultur dapat diperlukan untuk menilai kepekaan terhadap antibiotik.

4. Tes Hepatitis B

Hepatitis B dapat menular melalui hubungan seksual dan darah. Pemeriksaan darah dapat meliputi HBsAg, anti-HBs, dan anti-HBc total untuk membantu membedakan infeksi, kekebalan, serta riwayat paparan. Pemilihan penanda disesuaikan dengan tujuan pemeriksaan.

Tes ini terutama penting pada kehamilan, paparan terhadap pasangan dengan hepatitis B, atau riwayat vaksinasi yang tidak jelas. Tanyakan juga apakah Anda memerlukan vaksinasi.

5. Tes Hepatitis C

Penularan hepatitis C terutama melalui darah, tetapi penularan seksual juga dapat terjadi pada kondisi tertentu. Pemeriksaan biasanya dimulai dengan antibodi anti-HCV. Jika reaktif, tes HCV RNA diperlukan untuk memastikan apakah infeksi masih aktif.

Pemeriksaan menjadi relevan pada riwayat berbagi jarum, paparan darah, HIV, atau faktor risiko lainnya. Pada paparan yang sangat baru, dokter dapat memilih HCV RNA meskipun antibodi belum terdeteksi.

6. Tes Trikomoniasis dan Herpes Sesuai Indikasi

Tes trikomoniasis dapat menggunakan sampel vagina, terutama jika ada keputihan, bau tidak biasa, atau faktor risiko tertentu. Metode molekuler umumnya lebih sensitif dibandingkan pemeriksaan mikroskopis.

Untuk herpes, usap dari lepuhan atau luka yang masih baru, terutama dengan PCR, merupakan pilihan penting. Tes darah herpes tidak dianjurkan sebagai skrining rutin untuk semua orang tanpa gejala karena keterbatasan interpretasi dan kemungkinan hasil positif palsu.

7. Tes HPV dan Skrining Serviks

Tes HPV risiko tinggi dan Pap smear berkaitan dengan pencegahan kanker serviks, bukan paket skrining seluruh PMS. Pap smear menilai perubahan sel, sedangkan tes HPV mendeteksi tipe virus tertentu. Usia mulai dan interval pemeriksaan mengikuti pedoman setempat, metode tes, serta riwayat hasil sebelumnya.

Kapan Tes Sebaiknya Dilakukan Setelah Paparan?

Masa jendela adalah waktu antara tertular dan saat infeksi dapat terdeteksi. Hasil negatif yang terlalu dini belum tentu menyingkirkan infeksi. Perkiraan berikut bukan jaminan untuk setiap orang atau metode tes:

  • Gonore dan klamidia: pemeriksaan sering dijadwalkan sekitar 1–2 minggu setelah paparan. Jika dilakukan lebih cepat dan hasilnya negatif, pemeriksaan ulang mungkin diperlukan.
  • HIV: tes antigen/antibodi laboratorium dari darah vena biasanya dapat mendeteksi infeksi dalam 18–45 hari. Tes antibodi, termasuk sebagian tes cepat atau mandiri, dapat memerlukan hingga 90 hari.
  • Sifilis: antibodi dapat belum terdeteksi pada fase awal. Dokter dapat menyarankan tes ulang sekitar 4–6 minggu dan 3 bulan setelah paparan.
  • Hepatitis B: waktu deteksi bergantung pada penanda darah yang diperiksa; evaluasi ulang dapat diperlukan selama beberapa minggu hingga bulan.
  • Hepatitis C: HCV RNA dapat terdeteksi sekitar 1–2 minggu, sedangkan antibodi biasanya membutuhkan 8–11 minggu.

Jika muncul luka kelamin, nyeri saat berkemih, cairan tidak biasa, ruam, atau nyeri panggul, periksakan diri segera tanpa menunggu masa jendela. Jadwal tes HIV juga dapat berbeda bila Anda menggunakan PrEP atau PEP.

Siapa yang Membutuhkan Skrining Berkala?

  • Perempuan aktif secara seksual berusia di bawah 25 tahun umumnya dianjurkan skrining gonore dan klamidia setiap tahun; usia lebih tua bila memiliki faktor risiko.
  • Laki-laki yang berhubungan seksual dengan laki-laki umumnya memerlukan skrining HIV, sifilis, gonore, dan klamidia setidaknya setiap tahun, atau setiap 3–6 bulan pada risiko berkelanjutan.
  • Ibu hamil memerlukan pemeriksaan HIV, sifilis, dan hepatitis B sejak awal kehamilan; pemeriksaan tambahan atau pengulangan mengikuti risiko dan pedoman layanan.
  • Orang dengan pasangan baru, beberapa pasangan, pasangan terdiagnosis IMS, atau riwayat berbagi jarum perlu mendiskusikan pemeriksaan yang sesuai.

Persiapan dan Langkah Setelah Pemeriksaan

Sampaikan waktu paparan, jenis kontak seksual, gejala, penggunaan kondom, obat, serta vaksinasi secara terbuka. Umumnya tes darah PMS tidak memerlukan puasa. Untuk sampel urine atau usap, ikuti petunjuk fasilitas pemeriksaan dan hindari minum antibiotik sendiri.

Jika paparan berisiko HIV terjadi kurang dari 72 jam, segera cari layanan kesehatan untuk penilaian PEP; jangan menunggu hasil tes. Paparan hepatitis B juga perlu dinilai segera untuk pencegahan setelah paparan.

Bila hasil positif, ikuti pengobatan dan arahan mengenai pemeriksaan pasangan serta kapan aman kembali berhubungan seksual. Setelah gonore atau klamidia diobati, tes ulang sekitar tiga bulan umumnya dianjurkan untuk mendeteksi infeksi ulang. Dokter dapat menetapkan jadwal tambahan sesuai kondisi Anda.

Bagaimana perasaanmu membaca artikel ini?

Bagikan:
Artikel berhasil disimpan