Gejala Sifilis dari St...

Gejala Sifilis dari Stadium Awal hingga Lanjut pada Pria dan Wanita

Ukuran Teks:

Gejala sifilis dari stadium awal hingga lanjut pada pria dan wanita sering tidak disadari karena dapat menyerupai penyakit lain, muncul di area tersembunyi, atau menghilang tanpa pengobatan. Padahal, hilangnya keluhan tidak berarti infeksi sudah sembuh. Bakteri masih dapat bertahan di dalam tubuh dan menimbulkan komplikasi.

Sifilis adalah infeksi menular seksual yang disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum. Penyakit ini dapat disembuhkan dengan antibiotik yang tepat, tetapi kerusakan organ yang sudah terjadi tidak selalu dapat dipulihkan. Karena itu, mengenali gejala dan menjalani pemeriksaan sejak dini sangat penting.

Bagaimana Sifilis Menular?

Sifilis terutama menular melalui kontak langsung dengan luka atau lesi infeksius saat hubungan seksual vaginal, anal, maupun oral. Ibu hamil juga dapat menularkannya kepada janin melalui plasenta. Sifilis tidak menular melalui penggunaan toilet bersama, pelukan, atau berbagi alat makan dalam aktivitas sehari-hari.

Penularan seksual terutama terjadi pada stadium primer dan sekunder. Luka yang kecil, tidak nyeri, atau berada di dalam vagina, anus, dan mulut membuat seseorang mungkin tidak menyadari bahwa dirinya terinfeksi.

Gejala Sifilis Berdasarkan Stadium

1. Stadium Primer: Luka yang Sering Tidak Nyeri

Gejala awal biasanya muncul sekitar tiga minggu setelah tertular, tetapi rentangnya dapat berlangsung sekitar 10–90 hari. Tanda khasnya adalah luka yang disebut chancre di tempat bakteri masuk.

  • Luka biasanya tidak nyeri, dengan dasar relatif bersih dan tepi yang terasa tegas.
  • Jumlahnya bisa satu atau lebih; bentuknya tidak selalu khas dan terkadang terasa nyeri.
  • Lokasinya dapat berada di penis, vulva, vagina, leher rahim, anus, bibir, atau mulut.
  • Kelenjar getah bening di sekitar lokasi luka dapat membesar.

Luka biasanya menghilang sendiri dalam sekitar 3–6 minggu. Luka yang menutup bukan tanda bahwa sifilis sudah sembuh. Tanpa pengobatan, infeksi dapat berlanjut meskipun seseorang merasa sehat.

2. Stadium Sekunder: Ruam dan Keluhan Seluruh Tubuh

Stadium sekunder dapat muncul beberapa minggu setelah luka awal, bahkan ketika luka tersebut belum sepenuhnya sembuh. Pada tahap ini, infeksi telah menyebar sehingga keluhan dapat melibatkan kulit, selaput lendir, dan kondisi tubuh secara umum.

  • Ruam kemerahan atau kecokelatan, termasuk pada telapak tangan dan telapak kaki, yang sering tidak gatal.
  • Demam, mudah lelah, sakit tenggorokan, atau sakit kepala.
  • Pembesaran kelenjar getah bening di beberapa bagian tubuh.
  • Rambut rontok tidak merata, seperti membentuk bercak.
  • Bercak atau luka pada selaput lendir mulut.
  • Lesi lebar, lembap, dan menonjol di sekitar genital atau anus, yang disebut kondiloma lata.

Tidak semua orang mengalami seluruh gejala tersebut. Ruam juga dapat samar atau menyerupai masalah kulit lain. Keluhan bisa mereda tanpa terapi, tetapi infeksinya tetap ada.

3. Stadium Laten: Tidak Ada Gejala yang Terlihat

Pada stadium laten, sifilis tidak menimbulkan tanda atau keluhan yang tampak. Infeksi biasanya diketahui melalui pemeriksaan darah. Fase ini dapat berlangsung bertahun-tahun sehingga seseorang tidak bisa memastikan dirinya bebas sifilis hanya karena tidak memiliki luka atau ruam.

Stadium laten dibedakan menjadi laten dini dan laten lanjut berdasarkan perkiraan lamanya infeksi serta pedoman yang digunakan. Penentuan tahap oleh dokter penting karena memengaruhi rencana pengobatan. Pada kehamilan, infeksi tanpa gejala pun tetap berisiko bagi janin.

4. Stadium Tersier: Kerusakan Organ pada Tahap Lanjut

Sebagian orang dengan sifilis yang tidak diobati dapat mengalami stadium tersier bertahun-tahun hingga puluhan tahun setelah infeksi awal. Komplikasinya dapat berupa:

  • Gangguan jantung dan pembuluh darah besar, terutama aorta.
  • Gumma, yaitu benjolan akibat peradangan yang dapat merusak kulit, tulang, atau organ lain.
  • Kerusakan sistem saraf yang dapat memengaruhi ingatan, perilaku, koordinasi, atau kemampuan bergerak.

Gangguan saraf, mata, dan telinga akibat sifilis dapat terjadi pada stadium mana pun, bukan hanya stadium lanjut. Keluhannya dapat berupa sakit kepala berat, penglihatan kabur, nyeri mata, pendengaran menurun, telinga berdenging, atau gangguan keseimbangan.

Apakah Gejalanya Berbeda pada Pria dan Wanita?

Secara umum, perjalanan dan gejala sifilis serupa pada pria maupun wanita. Perbedaan yang paling sering terlihat adalah lokasi luka serta kemudahannya dikenali.

Pada pria, luka di penis mungkin lebih mudah terlihat, sedangkan luka di dalam anus atau mulut dapat terlewat. Pada wanita, luka di dalam vagina atau leher rahim sering tidak terlihat dan tidak terasa. Luka di mulut maupun anus dapat dialami siapa saja, bergantung pada lokasi paparan.

Pada ibu hamil, sifilis dapat menyebabkan keguguran, lahir mati, kelahiran prematur, atau sifilis bawaan pada bayi. Pemeriksaan kehamilan tetap diperlukan meskipun tidak ada keluhan.

Pemeriksaan dan Pengobatan Sifilis

Gejala saja tidak cukup untuk memastikan diagnosis. Dokter akan menilai riwayat paparan, melakukan pemeriksaan fisik, dan meminta tes darah. Pemeriksaan sampel luka dapat dilakukan jika tersedia. Pada infeksi yang sangat dini, hasil tes darah bisa belum positif sehingga dokter mungkin menyarankan pemeriksaan ulang.

Pengobatan utama sifilis adalah antibiotik penisilin. Jenis sediaan, jumlah dosis, dan durasinya bergantung pada stadium serta keterlibatan organ. Sampaikan jika memiliki riwayat alergi penisilin atau sedang hamil. Jangan mengobati sendiri karena regimen yang tidak sesuai dapat gagal menangani infeksi.

Pasangan seksual perlu diberi tahu agar dapat diperiksa dan memperoleh pengobatan bila diperlukan. Tes darah lanjutan membantu menilai respons terapi. Seseorang tetap dapat tertular kembali setelah sembuh.

Kapan Harus Mencari Pertolongan?

Periksakan diri jika muncul luka genital, ruam yang mencurigakan, pasangan didiagnosis sifilis, atau ada kemungkinan paparan meskipun tanpa gejala. Gangguan penglihatan atau pendengaran yang mendadak, kelemahan anggota tubuh, kebingungan, atau sakit kepala berat memerlukan pertolongan medis segera.

Hindari hubungan seksual sampai Anda dan pasangan menyelesaikan pengobatan, seluruh luka sembuh, dan tenaga kesehatan menyatakan aman. Kondom membantu mengurangi risiko, tetapi tidak melindungi sepenuhnya jika lesi berada di luar area yang tertutup. Pemeriksaan berkala sesuai risiko merupakan langkah penting untuk mendeteksi infeksi lebih awal.

Bagaimana perasaanmu membaca artikel ini?

Bagikan:
Artikel berhasil disimpan