AnambasPos.com, Aljir – Great Mosque of Algeria atau Djamaa el-Djazair berdiri megah di tepi Teluk Aljir, Aljazair. Masjid ini menyandang gelar sebagai masjid terbesar di dataran Afrika dan ketiga di dunia, setelah Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Tim detikcom berkesempatan melihat langsung kemegahan arsitektur Neo-Andalusia ini pada Selasa (19/5/2026), atas undangan Ministry of Tourism and Handicrafts of Algeria dalam rangkaian acara 25th International Tourism and Travel Fair (SITEV) 2026.
Masjid Djamaa el-Djazair bukan sekadar tempat ibadah, tetapi juga bukti peradaban. Menurut pemandu, masjid ini merupakan kompleks wisata ilmiah dan keagamaan. Proyek pembangunan masjid ini adalah visi besar mantan Presiden Abdelaziz Bouteflika, sebagai simbol kejayaan Islam modern dan warisan monumental pemerintahannya.
Masjid ini dibangun di atas lahan seluas 27,7 hektar, dengan luas bangunan mencapai 400.000 meter persegi. Ruang utamanya mampu menampung hingga 120.000 jemaah untuk beribadah.
Selain ruang salat, kompleks ini dilengkapi perpustakaan yang dapat menampung 1.000 pembaca dan menyimpan satu juta buku tentang sejarah, sains, dan peradaban Islam. "Di bagian selatan terdapat pintu masuk utama, pusat kebudayaan, perpustakaan dengan satu juta buku, serta sekolah pascasarjana untuk berbagai bidang ilmu," kata pemandu.

Pemandu juga menambahkan, terdapat perumahan staf, gedung pasukan keamanan, gedung pemadam kebakaran, dan kantor administrasi Djamaâ el-Djazair. Lingkungan luar masjid juga memiliki taman seluas 14 hektar yang ditanami pohon-pohon khas Mediterania, memberikan suasana teduh dan segar.
Salah satu fitur paling istimewa adalah menaranya yang menjulang setinggi 265 meter. Menara ini disebut sebagai yang tertinggi di dunia. Dari puncaknya, pengunjung dapat menikmati panorama Kota Aljir 360 derajat.
"Selanjutnya ada museum, yang merupakan kelanjutan alami dari ruang salat. Kami juga memiliki menara tertinggi di dunia dengan ketinggian 265 meter," jelas pemandu. Menara ini memiliki lima bagian, dengan tiga bagian pertama digunakan sebagai museum dan dua bagian terakhir diperuntukkan bagi pusat penelitian.

Pembangunan Djamaa el-Djazair merupakan kolaborasi lintas benua, melibatkan arsitek Jerman dan kontraktor dari China. Gaya Neo-Andalusia berpadu dengan kesederhanaan modern, terlihat dari kubah raksasa berdiameter 50 meter yang berkilau emas.

Masjid ini dirancang untuk ketahanan tinggi terhadap bencana. Ratusan bantalan isolasi seismik, perpaduan karet khusus dan baja, ditanam di bawah bangunan utama. Sistem ini dirancang untuk menahan guncangan hingga kekuatan 9,0 skala richter.
Proyek pembangunan ini dimulai pada tahun 2012 dan selesai hampir satu dekade kemudian. Total biaya pembangunan masjid ini mencapai lebih dari USD 1 miliar.

Sebelumnya, lokasi berdirinya Djamaa el-Djazair ini memiliki nilai sejarah yang berbeda. Dahulu, pada masa kolonial Prancis, tempat ini adalah pusat pergerakan misionaris Kardinal Charles Lavigerie. Kini, masjid tersebut berdiri di garis pantai Aljir, mengundang setiap orang untuk merasakan bagaimana iman, seni, dan sains bisa bersatu dalam satu napas.