Imunisasi Anak Usia Se...

Imunisasi Anak Usia Sekolah: Jadwal yang Sering Terlewat

Ukuran Teks:

Imunisasi tidak berhenti saat anak masuk usia sekolah. Justru ada beberapa vaksin penting yang dijadwalkan diberikan pada rentang usia 6 hingga 18 tahun, dan sayangnya banyak yang terlewat karena orang tua mengira perlindungan vaksin sudah tuntas sejak masa bayi. Padahal, beberapa vaksin membutuhkan dosis ulangan (booster) agar perlindungannya tetap optimal seiring bertambahnya usia.

Kelengkapan imunisasi anak usia sekolah bukan hanya soal perlindungan individu. Saat anak berada di lingkungan sekolah yang padat, risiko penularan penyakit menular meningkat signifikan. Vaksinasi yang lengkap membantu membentuk kekebalan kelompok sehingga penyakit tidak mudah menyebar di antara siswa.

Vaksin yang Sering Terlewat pada Anak Usia Sekolah

Program imunisasi nasional Indonesia mencakup beberapa vaksin yang diberikan pada anak usia sekolah melalui skema BIAS (Bulan Imunisasi Anak Sekolah). Berikut vaksin-vaksin yang paling sering tidak terpantau orang tua:

1. Vaksin DT dan Td (Difteri-Tetanus)

Vaksin DT diberikan kepada siswa kelas 1 SD sebagai booster, sementara vaksin Td diberikan kembali pada siswa kelas 2 dan kelas 5 SD. Banyak orang tua tidak menyadari bahwa perlindungan terhadap difteri dan tetanus dari vaksin masa bayi mulai menurun, sehingga pengulangan dosis sangat diperlukan.

Difteri masih menjadi ancaman nyata di beberapa daerah Indonesia. Anak yang tidak mendapat booster tepat waktu berisiko lebih tinggi tertular, bahkan meski sudah divaksin saat bayi.

2. Vaksin Campak atau MR (Measles-Rubella)

Booster vaksin campak atau MR diberikan pada siswa kelas 1 SD. Vaksin ini melindungi dari campak dan rubella sekaligus. Meski anak sudah mendapat vaksin MR pada usia 9 bulan dan 18 bulan, dosis ketiga saat usia sekolah tetap diperlukan untuk memperkuat imunitas jangka panjang.

Campak masih menjadi penyakit yang dapat menyebabkan komplikasi serius seperti radang paru dan radang otak, terutama pada anak yang imunitasnya tidak terjaga.

3. Vaksin HPV (Human Papillomavirus)

Vaksin HPV diberikan kepada siswi kelas 5 dan 6 SD dalam program BIAS. Vaksin ini melindungi dari infeksi HPV yang di kemudian hari dapat menjadi penyebab kanker serviks. Pemberiannya efektif jika diberikan sebelum anak terpapar virus, sehingga usia sekolah dasar adalah waktu yang tepat.

Sayangnya, vaksin HPV masih sering dilewatkan karena kurangnya informasi, stigma yang tidak tepat, atau orang tua yang tidak mengetahui jadwal pelaksanaannya di sekolah.

4. Vaksin Tifoid

Vaksin tifoid tidak termasuk dalam program imunisasi wajib nasional, tetapi direkomendasikan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) untuk diberikan mulai usia 2 tahun dan diulang setiap 3 tahun. Anak usia sekolah yang sering jajan di luar rumah memiliki risiko lebih tinggi terpapar bakteri Salmonella typhi penyebab demam tifoid.

5. Vaksin Influenza

Vaksin influenza direkomendasikan setiap tahun, terutama bagi anak dengan kondisi kesehatan tertentu atau yang tinggal di lingkungan padat. Banyak orang tua menganggap flu sebagai penyakit ringan yang tidak perlu vaksin, padahal influenza dapat menyebabkan komplikasi serius dan menyebabkan anak absen sekolah dalam waktu lama.

Kenapa Jadwal Ini Sering Terlewat?

Ada beberapa alasan umum mengapa imunisasi anak usia sekolah lebih sering terlewat dibanding imunisasi bayi:

  • Kurang pantauan: Orang tua umumnya lebih intensif memantau jadwal imunisasi saat anak masih bayi. Memasuki usia sekolah, perhatian terhadap jadwal vaksin berkurang.
  • Tidak ada pengingat rutin: Berbeda dengan imunisasi bayi yang dijadwalkan ketat di posyandu atau klinik, jadwal BIAS di sekolah tidak selalu diikuti dengan notifikasi langsung ke orang tua.
  • Anggapan imunisasi sudah selesai: Banyak orang tua mengira semua vaksin wajib sudah tuntas di usia balita.
  • Anak tidak hadir saat BIAS: Jika anak sakit atau tidak masuk sekolah saat pelaksanaan BIAS, orang tua sering tidak menindaklanjuti untuk mendapat vaksin susulan.

Cara Memastikan Imunisasi Anak Tetap Lengkap

Orang tua dapat mengambil beberapa langkah praktis agar jadwal imunisasi anak usia sekolah tidak terlewat:

  1. Simpan dan perbarui buku kesehatan anak atau catatan imunisasi secara berkala.
  2. Tanyakan kepada pihak sekolah atau guru UKS mengenai jadwal pelaksanaan BIAS setiap tahun.
  3. Jika anak tidak hadir saat BIAS, segera hubungi puskesmas atau klinik terdekat untuk mendapatkan vaksin susulan.
  4. Konsultasikan ke dokter anak mengenai vaksin tambahan yang direkomendasikan sesuai kondisi kesehatan anak.
  5. Buat pengingat di kalender atau ponsel sesuai jadwal vaksin yang perlu diulang.

Vaksin Susulan Masih Bisa Diberikan

Jika orang tua menyadari ada jadwal imunisasi yang terlewat, vaksin susulan tetap dapat diberikan. Dokter anak atau tenaga kesehatan di puskesmas dapat mengevaluasi riwayat imunisasi anak dan merekomendasikan jadwal catch-up yang sesuai. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, karena perlindungan yang diberikan vaksin tetap bermakna meski tidak tepat waktu.

Imunisasi anak usia sekolah adalah investasi kesehatan jangka panjang. Dengan memastikan jadwal vaksin terpenuhi, orang tua membantu anak tumbuh dengan perlindungan optimal, siap belajar, dan aktif beraktivitas tanpa gangguan penyakit yang seharusnya bisa dicegah.

Bagaimana perasaanmu membaca artikel ini?

Bagikan:
Artikel berhasil disimpan