Anambaspos.com, UEFA telah memberikan hukuman sementara kepada gelandang Benfica, Gianluca Prestianni, atas dugaan rasisme terhadap penyerang Real Madrid, Vinicius Junior. Prestianni dilarang tampil dalam leg kedua playoff Liga Champions melawan Real Madrid yang akan berlangsung pekan ini di Santiago Bernabeu. Hukuman ini menyusul insiden pada leg pertama di Lisbon, 17 Februari 2026, di mana Prestianni diduga melakukan penghinaan diskriminatif.
Insiden tersebut terjadi tak lama setelah Vinicius Junior membobol gawang Benfica. Vinicius lalu melaporkan dugaan penghinaan tersebut kepada wasit Francois Letexier, yang mengakibatkan laga sempat disetop delapan menit sesuai protokol anti-rasisme.
UEFA kemudian memulai penyelidikan atas kasus ini. Prestianni sendiri membantah telah menghina Vinicius dengan sebutan "monyet". Namun, menurut pengakuan striker Madrid lainnya, Kylian Mbappe, ia mendengar Prestianni memanggil Vinicius "monyet" sampai lima kali.
Baik Benfica maupun Real Madrid diketahui sama-sama membela pemain masing-masing sebagai pihak tak bersalah. UEFA lantas menunjuk inspektur etika dan disiplin untuk mengurus kasus yang menjadi sorotan luas ini, dengan mencari bukti-bukti dari berbagai pihak terlibat.
Pada Senin (23/2/2026), laporan dari The Athletic menyebutkan bahwa UEFA memutuskan untuk melarang Prestianni tampil dalam laga leg kedua melawan Madrid. Pertandingan tersebut dijadwalkan di Bernabeu pada Kamis (26/2/2026) pukul 03.00 WIB. Putusan ini bersifat sementara selagi kasus terus diselidiki.
Berdasarkan pernyataan resmi UEFA, "Menyusul penunjukan Inspektur Etika dan Disiplin UEFA (EDI) untuk menyelidiki dugaan perilaku diskriminatif selama laga play-off Liga Champions 2025/2026 antara Benfica dan Real Madrid pada 17 Februari 2026, dan atas permintaan EDI dengan laporan sementara, maka Komite Kontrol, Etika, dan Disiplin UEFA (CEDB) hari ini memutuskan untuk menangguhkan sementara Gianluca Prestianni untuk satu laga kompetisi klub UEFA berikutnya yang seharusnya ia ikuti karena pelanggaran prima facie Pasal 14 Aturan Disiplin UEFA terkait perilaku diskriminatif."
Lebih lanjut, UEFA menyatakan bahwa keputusan ini tidak mengurangi putusan apa pun yang mungkin dikeluarkan komite disiplin UEFA jika investigasi telah selesai. Informasi lebih lanjut mengenai masalah ini akan tersedia pada waktunya.
Dalam laporan ESPN, Prestianni mengaku kepada UEFA bahwa ia memanggil Vinicius dengan sebutan "maricon", yang berarti gay dalam bahasa Spanyol, alih-alih "mono" yang berarti monyet. Kedua kata tersebut sama-sama masuk dalam pelanggaran Pasal 14 Aturan Disiplin UEFA.
Jika terbukti bersalah, Prestianni terancam hukuman larangan main minimal 10 laga. Selain itu, Benfica juga diwajibkan untuk memberikan program kesadaran anti-rasisme kepada pemainnya tersebut. Diketahui, selama memperkuat Madrid, Vinicius telah menerima perlakuan rasis lebih dari 20 kali, bahkan sejumlah fan sampai dipenjara karena perilaku tidak terpuji itu.