Tradisi Ekstrem Ngurek dari Pulau Dewata Bali yang Menegangkan
Tradisi Ekstrem Ngurek dari Pulau Dewata Bali yang Menegangkan

BALI, AnambasPos.comPulau Dewata, Bali memang kaya akan tradisi. Salah satu tradisi yang cukup ekstrem dan menegangkan ialah tradisi Ngurek. Bagaimana tidak? Dalam ritual ini seseorang akan menusuk diri menggunakan keris yang ada di genggaman tangannya. Sangat menegangkan bukan?

Tradisi ekstrem di Bali ini disebut tradisi Ngurek. Di beberapa wilayah menyebutnya Ngunying. Tradisi ini sudah ada sejak dulu dan masih bertahan dan terus dilakukan oleh masyarakat Bali hingga kini.

Dilansir dari dapobas.kemdikbud.go.id, tradisi ini erat kaitannya dengan ritual keagamaan yang dipercaya oleh masyarakat Bali sebagai wujud nyata dari pengabdian kepada Sang Hyang Widhi Wasa.

BACA JUGA  Pengangkatan Khusus Polri Eks 57 Pegawai KPK Jadi ASN

Sesuai dengan namanya, Ngurek sendiri berasal dari kata “Urek” yang berarti melubangi atau menusuk. Oleh karena itu, tradisi yang dilakukan berusaha melubangi atau menusuk bagian tubuh sendiri dengan keris, tombak atau alat lainnya.

Uniknya, saat melakukan tradisi Ngurek seseorang tidak merasa kesakitan, berdarah bahkan tidak tergores atau luka. Pasalnya, mereka melakukanya tidak dalam keadaan sadar atau kerasukan.

 

tradisi-ngurek-003-tyas-titi-kinapti

 

Seperti dilansir dari Denpasarkota.go.id, sebelum menusk diri. Ada beberapa tahap yang dilakukan. Secara garis besar prosesi Ngurek atau Ngunying terbagi menjadi tiga, Nusdus, Masolah dan Ngaluwur.

BACA JUGA  Datangi Korban Banjir Rohul, Gubernur Riau Serahkan Bantuan Sembako hingga Tenda

Pertama tahap Nusdus, di mana merangsang para pelaku ngurek dengan asap yang beraroma harum menyengat agar segera kerasukan. Selanjutnya tahap
Masolah, saat pelaku ngurek sudah tak sadarkan diri alias kerasukan mereka akan menari dengan iringan lagu-lagu, koor kecak atau bunyi-bunyian gamelan.

Saat upacara mengundang roh leluhur dilakukan, para roh diminta untuk berkenan memasuki badan orang-orang yang telah ditunjuk. Menjadi sebuah tanda, bahwa roh-roh yang diundang telah hadir di sekitar mereka.

 

tradisi-ngurek-005-tyas-titi-kinapti

 

Pada tahap Masolah, para pelaku ngurek melakukan ritul inti. Di iringi suara gending gamelan, para pengurek yang kerasukan, langsung menancapkan keris ke tubuh mereka.

Pelaku ngurek biasanya menusukkan keris pada bagian tubuh di atas pusar seperti dada, dahi, bahu, leher, alis bahkan mata. Ditusuk berulang-ulang kali, ditekan dengan kuat. Tubuh para pelaku ngurek tidak akan berdarah.

BACA JUGA  Komisi I DPR: Revisi UU ITE Harus Hapus Pasar Multitafsir

Tak terlihat juga wajah raut kesakitan mereka. Bahkan goresan keris tersebut tidak terlihat di kulit para pelaku. Roh yang ada di dalam tubuh para pengurek ini menjaga tubuh mereka agar kebal, tidak mempan dengan senjata

Setelah usai, ritual terakhir tradisi Ngurek memasuki tahap Ngaluwur. Mengembalikan mereka pada jati dirinya dan kembali sadar. Tradisi Ngurek juga dipercaya, untuk mengundang Ida Bhatara dan para Rerencangan (prajurit beliau) berkenan menerima persembahan ritual saat upacara.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here